Pesan yang Sering Diabaikan

Beberapa minggu lalu, anak-anak Jomantara (siswa-siswi SMA PUQ yang mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik dan publisistik) diundang oleh teman-teman mereka dari SMAN I Banjaran untuk menghadiri acara menyambuat bulan bahasa.

Ada yang menarik dari “oleh-oleh” yang mereka bawa dari sekolah yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Banjaran ini, yakni sebuah foto tong sampah dengan tulisan “Buanglah bahasa sampah di sini!”.

Menurut saya, apa yang dipajangkan siswa-siswi SMAN I Banjaran di atas merupakan kreatifitas yang patut diacungi jempol. Sebuah kreatifitas yang lahir dari ketulusan tanpa rekayasa. Jauh dari apa yang biasa kita saksikan pada pamflet-pamflet, spanduk-spanduk, atau baligo-baligo orang-orang yang konon adalah calon wakil rakyat ketika musim pemilu.

Melihat foto di atas, saya semakin disadarkan akan pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi. Istilah baik dan benar ini tentu tidak hanya terbatas pada konsep gramatika, tetapi juga konteks sosial.

Kalimat “Kapan bapak kamu modar?”, sebagai misal, secara gramatika adalah benar. Tapi akan menjadi keliru ketika diucapkan kepada seorang teman yang baru saja ditinggal salah satu pemimpin keluarganya. Lebih dari itu, kekeliruan penerapan bahasa dalam konteks sosial ini bisa memiliki dampak yang jauh lebih berbahaya.

Dalam bahasa Sunda dikenal istilah “Hade goreng ku basa”. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung arti bahwa jelek atau buruknya sesuatu tergantung dari bahasa yang kita ucapkan. Jadi, sebelum David J. Schwartz menulis “The Magic of Thinking Big”, orang-orang Sunda telah jauh lebih dulu menempatkan bahasa sebagai faktor penting dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup.

Ketika kita mengucapkan “Saya mampu!”, maka ucapan itu akan direspon secara positif oleh pikiran kita yang pada gilirannya akan membukakan kita pada berbagai jalan kemudahan menuju apa yang kita inginkan. Demikian pula sebaliknya. Ucapan atau kata-kata negatif akan mendapat respon yang negatif pula dari pikiran kita.

Saya pikir “papadon” orang Sunda ini penting untuk disadari terutama oleh kita yang bergerak di dunia pendidikan. Ucapan yang kita tujukan kepada anak-anak didik kita sudah seharusnya bermuatan positif yang dapat memotivasi mereka menjadi generasi unggul dan berakhlak mulia.

Dalam Alquran pun kita akan menemukan banyak ayat yang menegaskan akan pentingnya penggunaan bahasa yang baik. Misalnya ayat-ayat yang secara eksplisit menyebutkan kata-kata kunci yang berbunyi qawlan sadidan, qawlan ma’rufan, qaulan balighan, dan qawlan layyinan.

Pada ayat lain (QS. 14:23-25) Allah mengibaratkan ucapan yang baik (kalimat thayyibah) sebagai pohon yang akarnya tertancap kuat di bumi dengan cabang-cabang yang mencakar langit. Ini berbanding terbalik dengan ucapan jelek atau kotor yang Allah ibaratkan sebagai pohon yang tercerabut dari akarnya.

Jadi, marilah dari sekarang kita mulai membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang baik di setiap keadaan. Dan jika kita terlanjur mengucapkan kata-kata negatif, maka segeralah cari tong sampah dan buanglah kata-kata kotor tersebut di sana! 🙂

Wassalam.