Muatan Lokal

Muatan lokal (mulok) merupakan komponen integral dari struktur kurikulum pada setiap tingkat satuan pendidikan seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Perhatian pemerintah akan pentingnya muatan lokal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tanah air kita tercinta, terdiri dari berbagai suku bangsa dengan beragam budaya, adat-istiadat, bahasa, kesenian, kerajinan, dan keterampilan unik masing-masing.

Dengan diselenggarakannya pengajaran-pengajaran bermuatan lokal ini, para peserta didik diharapkan dapat lebih akrab, sadar, dan memiliki wawasan serta sense of belonging akan kekayaan budaya daerah tempat mereka berada. Pada gilirannya, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya lokal untuk menunjang pembangunan nasional secara menyeluruh.

Adapun muatan-muatan lokal yang diberikan di SMA dan SMK Almarwah adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa Sunda

    Secara geografis, Kampus SMA dan SMK Almarwah berada di Kabupaten Bandung (silakan lihat peta lokasi kampus untuk lebih jelas!). Sebagaimana kita ketahui, Kabupaten Bandung merupakan bagian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang juga dikenal sebagai Tatar Sunda dengan bahasa Sunda sebagai alat komunikasi utama sehari-hari para penduduknya.

    Sadar akan hal ini, maka mulok Bahasa Sunda ini dianggap penting untuk diberikan dan secara formal diintegrasikan dengan kurikulum yang ada di SMA dan SMK Almarwah. Di samping itu, mulok Bahasa Sunda ini diharapkan dapat menjadi peran serta kami dalam melestarikan bahasa sekaligus budaya salah satu suku tersebar di Nusantara yang sangat mungkin sirna “digilas kaki sang waktu yang sombong” (meminjam istilah Iwan Fals).

    Pengajaran mulok Bahasa Sunda ini, pada praktiknya, tidak hanya berkaitan undak-usuk-basa (tata bahasa atau gramatika bahasa Sunda), tapi bersangkut-paut pula dengan kebudayan, kesenian, dan kerajinan Sunda yang syarat akan kearifan-kearfian lokal yang patut dihargai dan dilestarikan.

  2. Ilmu-ilmu Keislaman

    Masyarakat Jawa Barat, tempat Kampus SMA dan SMK Almarwah berada, selain ramah juga dikenal relijius. Relijius di sini bisa diartikan sebagai menjalani hidup dengan berorientasi pada nilai-nilai agama (baca: Islam). Dengan mudah kita dapat menemukan, masjid, mushola, pesantren, atau madrasah di hampir setiap pelosok daerah yang beribukotakan Bandung ini.

    Tanpa perlu menutup mata, bertebarannya institusi-institusi keagamaan di atas, dalam praktiknya tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesadaran moral-sosial masyarakat Jawa Barat akan perannya sebagai Khalifah Allah di bumi. Perilaku amoral oknum pejabat pemerintah, penegak hukum, bahkan tenaga pendidik sering terdengar diberitakan di berbagai media cetak maupun elektronik.

    Banyak faktor yang melatarbelakangi maraknya cacat-cacat sosial tersebut. Pemecahannya tentu tidak bisa sepenuhnya dapat diatasi hanya dengan pengajaran agama, apalagi jika hal itu hanya dilakukan di ruang kelas.

    Terlepas dari kenyataan bahwa banyak pelaku amoral adalah orang beragama, kita pun melihat tidak sedikit orang berakhlak mulia, berkarakter, berdedikasi, jujur, dan penuh optimise merupakan produk dari pendidikan agama yang didapatkannya di sekolah dan—terutama—di keluarga.

    Atas dasar ini kami berkeyakinan bahwa pendidikan agama tetap perlu diberikan kepada peserta didik di berbagai tingkat satuan pendidikan, termasuk di sekolah kami, SMA dan SMK Almarwah. Meski SMA dan SMK Almarwah bukan lembaga-lembaga pendidikan yang secara formal berlabel Islam, kami berkeyakinan bahwa ajaran-ajaran luhur Islam terutama yang berkaitan dengan pendidikan akhlak, baik akhlak kepada Sang Maha Pencipta, akhlak kepada lingkungan, maupun akhlak kepada sesama manusia sangat dapat dijadikan inspirasi moral, sumber etika, sekaligus pandangan hidup bagi siapa pun.

    Muatan-muatan lokal dalam kelompok ilmu-ilmu keislaman ini mencakup: pelajaran Bahasa Arab, Quran, dan Hadis. Muatan-muatan lokal ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti PAI (Pendidikan Agama Islam) sebagai mata pelajaran normatif. Tetapi lebih sebagai pelengkap sekaligus secara unik menjadi kelebihan SMA dan SMK Almarwah.

    Dari segi materi, muatan-muatan lokal keislaman tersebut diberikan sepraktis mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi psikologis para peserta didik, sehingga mereka dapat dengan mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, setiap hari, sebelum jam pelajaran pertama dimulai, siswa-siswi SMA dan SMK Almarwah di kelasnya masing-masing diwajibkan membaca beberapa ayat Alquran bersama-sama. Kebiasaan ini diharapkan akan terus dibawa para siswa bahkan setelah mereka meninggalkan sekolah yang pada gilirannya dapat menanamkan kecintaan mereka pada Kitab Suci Alquran sebagai sumber utama ajaran Islam.

    Naif tentunya jika dengan adanya muatan-muatan lokal keislaman ini kami megharapkan para lulusan SMA dan SMK Almarwah akan menjadi mubaligh atau dai di kemudian hari, meski hal ini sangat mungkin terjadi. Pemberian muatan-muatan lokal keislaman ini lebih merupakan bentuk perhatian kami akan perlunya penanaman nilai-nilai, ajaran-ajaran, dan wawasan keislaman yang toleran, aplikatif, serta inkulsif sebagai cerminan dari diktum Islam sebagai Rahmatan lil Alamin.